Bila melihat gambar di atas, tentu banyak interpretasi yang mendiskripsikan apa yang terjadi. Pastinya air yang keluar dari kedua keran tersebut adalah air bersih yang berasa di sebuah masjid di Kabupaten Bener Meriah.

Satu hal yang menggelitik saya sehingga gambar ini saya shoot dengan kamera ponsel saya adalah seringnya saya melihat hal-hal mirip seperti ini di Kabupaten Bener Meriah. Tak hanya di site yang saya shoot dengankamera ponsel ini, namun juga ada di beberapa tempat lain.

Kabupaten Bener Meriah itu luas. Luas yang saya tulis di sini bermakna,(masih) luas akan lahan kosong dan masih luas akan tutupan hutan di sekitar daerahnya. Kabupaten ini lahir pada tahun 2004, setelah melepaskan diri dari saudara tuanya, Aceh Tengah. Secara logika pikiran saya, negeri ini masih banyak menyimpan akan sumber air. Baik air yang berada di permukaan, pun air yang masih berada di dalam tanah.

Indikasi yang terlihat oleh mata kepala saya adalah, banyak sungai yang terlihat di peta-peta topografi dan peta jenis-jenis lain yang saya lihat di perkantoran pemerintahan Kabupaten Bener Meriah. Aliran sungai itu terdiri dari sungai besar dan sungai-sungai kecil. Juga ada alur-alur kecil yang bisa mengairi sawah. Aliran sungai-sungai ini kebanyakan berhulu di Bener Meriah, juga ada yang melintas dari Kabupaten Aceh Tengah. Pastinya semua aliran ini bermuara ke Selat Malaka.

Indikasi lain, tutupan hutan masih lebat. Curah hujan yang (masih) cukup tinggi, dan masih banyak lahan yang bisa menjadi daerah tangkapan air (catchment area). Asalkan masih asri, tentu air di daerah ini masih bisa menjadi sumber hidup penduduk dan makhluk hidup lainnya di Bener Meriah.

Back to the picture, air ini mengalir begitu saja tanpa ada yang mau menutup kerannya. It’s not first time I watched this scene, terlalu sering saya melihat hal seperti ini. Menariknya tak hanya di tempat ini namun juga ada di beberapa tempat yang kebetulan saya lihat dan saya kunjungi.

Ya, di sini air (masih) melimpah, sehingga air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari sering sekali terbuang saja. Contohnya , tempat wudhu di masjid-masjid sering sekali keran air tak tertutup. Malah sengaja dibiarkan mengalir begitu saja. Pemandangan ini tak hanya di masjid, tetapi juga di beberapa tempat umum, sering sekali air bersih terbuang begitu saja. Itu sudah menjadi pemandangan umum.

Mengelitiknya, di sisi lain, di saat air melimpah begitu banyak. Ada pemandangan lain yang bertolak belakang dengan pemandangan di atas. Malah pemandangan ini berada di tempat yang sama dengan air yang begitu melimpah. Apakah itu? Bila teman-teman yang hidup di Daerah Gayo, tentu sangat faham. Kamar kecil untuk membuang hajat sangatlah tidak mengenakkan buat melaksanakan ritual biologis. Sering terlihat dan teramati, bila kamar kecil berbau amonia dan di toilet, ampas sang insan tak tersiram dengan baik. Padahal, air di sampingnya sangat mantap mengalir tak henti.

Haha, maaf karena menggunakan Daerah Gayo, karena memang saya berasal dari Gayo, dan cinta akan Gayo. Tentu pemandangan “indah” ini sering terlihat di kampung-kampung yang jauh dari kota.

Tentu yang teramati oleh saya saat ini (semoga) bukanlah mewakili gambaran daerah ini secara umum.

But, that is the reality saat pemerintah terus saja membangun infrastruktur agar terlihat pembangunan. Di sisi lain, manusianya masih belum tersentuh akan hakikat pembangunan, yaitu masyarakat sejahtera dan makmur. Tentu salah satu cara dengan hidup sehat dan mau menjaga resource di sekeliling kita.