Agustus adalah bulan kedepalan dalam perhitungan kalender masehi. Agustus juga merupakan bulan genap yang pertama yang harinya berjumlah 31. Agustus, bagi negeri ini, 65 tahun lalu merupakan cakra yang bersejarah bagi Indonesia.

Di warsa kali ini, tepatnya di tanggal 11 Agustus, dimulailah amalan umat Muslim di seluruh dunia, pastinya Indonesia, yaitu ibadah shaum. Tepat di hari itu dimulai hari bulan Ramadhan, bulan dimana di-fardhu-kan buat semua muslim yang beriman untuk menahan segala hal yang berhubungan dengan makan-minum juga menahan segala hal akan nafsu yang negatif. Pun di bulan ini semua amalan kebaikan pahalanya dilipatgandakan. Dengan kata lain inilah bulan yang semua rahmat ada di sini. Ibarat pohon yang panen buah, hal kebaikan dapat dipanen di bulan ini sehingga yang kita peroleh adalah kebajikan.

Ramadhan, kalau di KBBI, disebut Ramadan, karena aksara Indonesia tak punyai fonem dengan huruf “dh”. Jadi ya diserap dan dijadikan kata “ramadan”. Sebenarnya tak masalah lah. Yang penting kita faham akan makna di dalamnya. Di samping kita bisa juga memperkaya khzanah bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Arab, ramadan berarti panas atau pembakaran. Ramadan di sini tentu dengan huruf ?. Bila dengan huruf ? bermakna kesedihan. Seperti penjelasan di atas. Bila di Indonesia tertulis ramadan, makna yang tertuju adalah makna dari ?????

Ramadan itu panas karena panas bisa membakar semua dosa yang telah kita lakukan selama setahun sebelumnya. Ditambah dengan Zakat Fitrah di akhir Ramadan, maka kita akan menjadi insan yang fitri atau suci. Sehingga kita mulai lagi menjadi insan baru yang siap menghadapi kehidupan di bulan-bulan berikitnya.

Terbetik sebuah ingatan di saat awal syawal, setelah Idul Fitri.. Ada seorang teman yang menanggapi ajakan teman lainnya untuk bersepeda di hari sabtu pagi. Teman itu menjawab, dia tak bisa ikut bersepeda karena ingin sekali tidur. Ya, tidur. Alasannya, selama ramadan dia kurang tidur. Nah, di sini bukan hal tidurnya yang ingin dibahas. Namun sebuah kebiasaan di bulan ramadan. Sang teman melakukan aktivitas sehingga dia kurang tidur saat ramadan. Anggaplah dia melakukan hal yang positif dan produktif. Jadi ramadan menjadi patokan melakukan hal-hal yang bisanya tak kita lakukan di bulan lain. Memang contoh di sini adalah tidur yang kurang. Tapi esensi dari ramadan adalah, menjadikan ramadan sebagai bulan meningkatkan kebiasaan baik dan menularkan kebiasaan itu di bulan-bulan selanjutnya. Biasanya saat ramadan, kita sering melaksanakan jamaah dan melakukan hal-hal sunnat. Maka hal itu seyogyanya menjadi jalan agar kita bisa mengulanginya lagi di hari-hari setelah ramadan. Jadi ramadan dalah sebagai bulan latihan bagi aktivitas kita pada bulan-bulan selanjutnya.

Masih di bulan ramadan, atau di bulan Agustus 2010. Tepatnya tanggal 13, hari Jumat. Ada sebuah kejadian yang membuat hubungan antara kedua negara betetangga yang serumpun kembali (lagi) memanas. Haha, tentu bukan akibat “panas” ramadan. Namun ini merupakan puncak dari (mungkin) beberapa puncak yang akan terjadi akibat seringnya terjadi konflik antara Indonesia dan Malaysia. Sebabnya, di hari itu, tiga pegawai Kementrian Kelauatan dan Perikanan (KKP), dulu sih namanya Departemen Kelauatan dan Perikanan (DKP), ditangkap oleh Polisi Marin Diraja Malaysia (PMDM). Alasannya ketiga staf KKP itu melanggar perbatasan maritim kedua negara. Tentu PMDM menyatakan ketiga Staf KKP telah melewati batas perairan Malaysia.

Menurut KOMPAS, padahal bila dilihat ke belakang, sebelum melakukan patroli. Petugas KKP yang berjumlah lima orang tidak menjalankan beberapa prosedur patroli. Contohnya, tak membawa alat navigasi seperti Global Positioning System (GPS). Padahal GPS bisa mengontrol petugas dan membari gambaran akan posisi kerja petugas KKP. Padahal bisa saja saat itu mereka masih berda di dalam wilayah maritim Indonesia. Namun karena “gertak” PMDM lebih garang, ditambah dengan peralatan mereka lebih oke, mereka bisa saja meng-klaim kalau petugas patroli KPP melanggar batas. Hehe.

Selain itu juga, petugas KKP tak berkoordinasi dengan Polisi Air dan Udara, TNI Angkatan Laut, dan Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla). Tentu saja ini mengakibatkan petugas kalah bulu.

Juga menurut KOMPAS, kesalahan petugas patroli KKP adalah, kurangnya personil saat penangkapan dengan nelayan yang ditangkap. Ini melanggar peraturan patroli dan tentu bisa membahayakan personilakibat kalah “kelas”.

Intinya selain manajemen yang belum mantap, tak adanya ketegasan dari pihak Indonesia akan perbatasan maritim Indonesia-Malaysia. Tentu juga isu politik di tingkat elit bisa saja tak sampai di pihak bawah atau ujung tombak, seperti petugas KKP di lapangan. Artinya, doktrin akan perbatasan dan kedaulatan bangsa tak hinggap atau kurang hinggap di dada petugas kita. Beda amat sangat dengan petugas Diraja Malaysia yang juga tegas di lapangan.

Entahlah, ditambah dengan isu pemanasan global dan perubahan iklim yang bisa mengakibatkan naiknya permukaan air laut. Bisakah itu juga bisa menjadi pemicu perubahan landasan kontinen sebuah negara. Wew…tentu bisa saja, bila tak dipikir dan ditindak dari sekarang.

bersambung ke sana